Akhirnya, tanggal 19 April kemaren, kami pindah apartemen ke Berlin. Lega banget semuanya berjalan dengan baik dan lancar
Persiapan
Sebenarnya, persiapannya pindah ini lebih dari 2 bulan, termasuk nyari apartemen di Berlin dan ngurus administrasinya. Seminggu sebelum hari-H, semua barang telah selesai dikotakin. Karena barangnya buanyak buanget, kami terpaksa menyewa mobil Mini bus. Rasanya dulu datang ke Bremen dengan 4 koper besar sekarang kok jadi se-minibus ya
Untuk rental mobil, Astrid memesan lewat Internet dan berhasil dapat tawaran yang murah dari AVIS. Dengan 193 Euro, kami dapat Mercedes Vito untuk 1 hari dengan kilometer tak terbatas.
Kami nggak punya SIM. Untungnya, teman dekat kami, Christ dan Christopher (orang Jerman), mau nyetirin dari Bremen ke Berlin dan juga balikin mobilnya ke Bremen. Kalo nggak, biaya pindah bisa membengkak abis untuk sewa sopir.
Julia dan Bjoern juga menawarkan untuk membantu ngangkutin kotak pas pagi hari-H nanti. Untung punya banyak teman di sini
Hari-H
Sabtu, jam 8 pagi, kami ber-6 ngumpul di kantor rental mobil di train station. Pesan mobil atas nama Astrid, tapi harus mendaftarkan SIM-nya Christ dan Christopher (karena mereka yang bakal nyetir). Setelah diberi penjelasan ama mbaknya, kunci beserta beberapa surat/dokumen diberikan. Tanpa petugas, kami sendiri yang ngambil mobilnya di gedung parkir.
Mobil dalam keadaan full-tank, harus dikembalikan juga dalam keadaan full tank dan di parkirkan sendiri ke dalam gedung parkir rental. Kilometer mobil juga tercatat.
Salah satu dokumen yang diberikan mbak rental adalah list kerusakan/goresan/penyok yang udah ada di mobil. Di dalam list itu, terdaftar ‘kerusakan’ apa saja yang sudah ada di body mobil, semcam goresan atau penyok kecil di body mobil. Ada sekitar 7 kerusakan yang menurut gw, sangat kecil. Mobilnya bisa dibilang sangat mulus untuk ukuran orang kita. orang Jerman memang teliti.
Keluar dari gedung parkir, kami stop-in mobilnya untuk mencek ulang list ‘kerusakan’ tersebut. Kita harus memastikan semua cacat pada body mobil tercatat sebelum kita mulai memakai mobil. Soalnya, kalau pihak rental menemukan cacat yang tidak ada dalam list setelah pengembalian, kita bisa kena denda karena dianggap melakukan kerusakan baru. Untungnya Christ dan Bjoern sudah berpengalaman dalam hal ini dan bahkan bisa menemukan beberapa cacat baru yang tidak terdaftar dalam list. Segera mereka telpon ke pusat rental untuk melaporkannya.

Memeriksa kondisi awal mobil
Cuaca hari itu sangat cerah. Keluar dari gedung parkir jam 9 menuju apartemen di Bremen, serasa kayak mo piknik. Kami berenam, heboh pisan, dalam satu mobil besar
Christ yang nyetir, juga bawa GPS buat navigasi perjalanan.
Sampai di apartemen, langsung saja kami masukin barang dan kotak ke dalam mobil. Barangnya benar-benar banyak, sempat khawatir kalo-kalo nggak muat di mobil.

Untungnya, teman-teman kami sepertinya sudah sangat berpengalaman pindah-pindah. Sekitar 35 menit, semua barang muat ke dalam mobil. Mobil benar-benar penuh dan sesak dengan barang. Bayangkan mobil minibus 9 seat dan penuh dengan barang!!
Julia dan Bjoern pamit, tak lupa kami ucapkan terima kasih. Julia juga memberikan kado kecil buat Astrid
Berangkat!!
Karena mobil benar-benar penuh, terpaksa 3 orang duduk di depan (Christ, Astrid, dan Christopher) dan gw sendiri di belakang. Di Jerman, semua penumpang, baik yang duduk di depan maupun di belakang, harus memakai seat belt.
Jam 10 pagi, kami pun berangkat. 10 menit kemudian, kami masuk jalan tol dan langsung tancap!
Jalan tol di Jerman tidak punya speed limit. Meskipun Christ menyetir dengan kecepatan antara 140 - 160 kmph, mobil sangat stabil. Gw teringat mobil Daihatsu Taruna gw yang goyang dan bergetar abis kalo udah diatas 100 kmph. Mercedes memang top
Perjalan Bremen ke Berlin sekitar 400km. Sepanjang jalan, kami ngobrol-ngobrol. Tak terasa, 3.5 jam berlalu dan kita sampai di Berlin.
Begitu ketemu gas station, mobil langsung kami isi (diesel) dan ternyata cuman abis 52 Euro (32 liter). Lumayan hemat
Nyampe Berlin
Sesampainya di apartemen Berlin, barang-barang langsung dikeluarkan. Beruntung dapat parkir di depan apartemen. Tak sampai setengah jam, mobil telah kosong.
Kami makan siang bareng di restaurant Vietnam di sekitar rumah. Setelah beli kopi di Starbucks, Christ dan Christopher pun balik lagi ke Bremen sekalian ngembaliin mobilnya ke rental di Bremen. Memang bisa kita balikin di Berlin, tapi biayanya jadi lebih mahal. Bisa ekstra ratusan Euro, bandingkan ama sekedar 50 Euro buat biaya bensin.
Setelah foto bareng, mereka pun berangkat. Thanks a lot, Christ dan Christopher

Gw, Christopher, Christ, dan Astrid. Berphoto di depan gedung apartemen kami di Berlin.
Pindah-pindah memang capek dan biayanya tidak murah. Sekitar 400 Euro (sewa mobil, bensin, kotak-kotak), belum termasuk biaya bolak-balik Berlin-Bremen buat nyari apartemen. Juga perlu banyak waktu dan tenaga buat buangin, ngotakin barang, dan juga buat unpack barang di apartemen baru.

Saatnya untuk unpack barang-barang
Kami beruntung banget punya banyak teman yang peduli dan mau nolongin. Meski sekarang kami di Berlin (dan betah banget di Berlin), kami bakal maen ke Bremen. Minimal buat ke Birthday ato BBQ party teman kami (kalo mereka masih di Bremen).
Di-post oleh: abiyasa
No Comments yet...
Kategori: Eropa



Dua hari yang lalu, akhirnya gw teken kontrak full-time job di Berlin. Kerjanya sangat lumayan: sebagai programmer di perusahaan yang bergerak di bidang desain grafis dan IT spesialis mobile.
Ada dua perusahaan di Berlin yang berminat. Empat kali bolak-balik Berlin-Bremen selama Desember 2007 - Januari 2008 buat dua kali wawancara untuk masing-masing perusahaan. Kebanyakan pulang hari, soalnya cuman 6 jam pulang pergi. Semua wawancara dalam bahasa Inggris dan gw juga sempat ditanyain beberapa technical questions.

Siang tadi, gw makan bagel isi ikan tuna, daun Ricola, tomato, dan black olive. Itulah makanan lebaran gw tahun ini 
