Tak terasa udah 2 tahun berlalu dari sejak gw nulis post gw tentang lebaran ke-4 di Jerman.
Tahun kemaren, kami udah pindah ke Berlin. Gw lagi sibuk ama kerjaan baru dan baru saja selesai thesis. Sama seperti lebaran-lebaran sebelumnya, ga sempat sholat id gara-gara salah tanggal. Orang Indo di Berlin ternyata menyambut lebaran sehari lebih duluan dibanding Indonesia. Kami nyangkanya bakal sama dengan tanggal di Indo dan baru tahu siang harinya.
Tapi tahun ini, agak spesial. Kami menghabiskan lebaran dengan menonton langsung Berlin marathon.
Ini Berlin marathon yang kedua yang kami tonton. Tahun lalu, 2008, rekor dunia marathon terpecahkan di Berlin Marathon. Haile Gebrselassie memecahkan rekornya sendiri di Berlin marathon 2007. Tahun ini, dia masih juara pertama tapi tidak berhasil mecahin rekor.
Ada banyak hal yang kami sukai ama Berlin marathon ini sampe-sampe lupa waktu dan jadi ga sempat halal-bi-halal di Kedubes
Kostum
Selain para atlet dan orang yang ‘serius’ lari, cukup banyak orang yang lari buat senang-senang ato lucu-lucuan dengan memakai kostum. Ada yang pake baju badut, ballerina, topeng, bahkan sampe berlari dalam kostum maskot yang tebal. Bayangkan 42km lari pake baju tebal begitu
Kalo gw udah jago marathon, ntar bakal lari pake baju Gatotkaca
Saya Bisa, Kamu Bisa
Ada nenek-nenek, kakek yang berusia 74 tahun, ada orang buta, ada yang berkorsi roda, ada yang pelari professional, dan ada yang kelihatan udah kayak mo mati aja. Ada yang finish 2.5 jam, ada yang 4 jam, dan ada yang 6 jam. Ada yang lari ngebut dan ada yang jalan terpincang-pincang. Bahkan ada yang berlari sambil mendorong kereta bayi.
Di antara pelari-pelari yang terakhir masuk finish, banyak yang kakek-kakek. Salah satunya ada pelari dari Jerman yang berusia 74 tahun yang masih tegap dan lumayan fit. Dan dia bukan pelari yang tertua yang gw lihat. Salut banget sama orang tua yang masih menjaga kesehatan dengan olahraga.
Semangat
Orang-orang terlihat saling support. Para penonton terus menyoraki orang-orang yang lari, baik yang mereka kenal maupun yang nggak. Kami jadi ikut2an berdiri di pinggir Brandenbuerger Gate, menyorakin orang-orang. Kalo ada yang terpincang ato mulai kecapekan, orang-orang pada nyemangatin. Gw sempat melihat para pelari terakhir yang masuk finish tapi para penonton masih menyorakin penuh semangat. Seolah-olah mereka juga ikut senang melihat orang lain berhasil.
Orang-orang ini punya determinasi yang kuat untuk menyelesaikan perlombaannya dan itu yang bisa dirasakan juga oleh penonton.
Pelari terakhir masuk finish jam 4 sore. Event yang tahun ini diikuti 50 ribu orang dari berbagai negara, akhirnya berakhir.
Gw jadi sangat semangat setiap kali habis nonton marathon. Begitu semangatnya sehingga gw benar-benar berniat buat bisa lari marathon tahun depan. Sempat terpikir dan ragu, bisa ga ya?
Bisa! Gw bisa!
